Kondisi mental remaja pada situasi orang tua yang tidak kondusif
Halo! こんにちわ!
Perkenalkan namaku Rizka sebenernya biasa dipanggil cika sih, btw, diriku masih pemula banget jadi penulis Blog, Yoroshikuonegaishimasu.☺
disini diriku angkat tema kondisi mental remaja pada situasi yang bagaimana sih? hmm. bisa dibilang perceraian. kondisi yang aku perhatikan itu terdapat 2 hasil. pertama, yang trauma. kedua, yang ingin perubahan. berikut pernjelasannya ya!
1. Trauma. yakni yang sampai tidak ingin menikah dan tidak ingin memulai suatu hubungan. akibat dari apa yang ia alami, menjadikan dirinya takut untuk terjadi lagi.
2. Ingin perubahan. kondisi ini termasuk baik dan patut diapresiasi. Sebenarnya rasa trauma tetap ada, tetapi dengan rasa motivasi diri yaitu rasa ingin berubah dan menjadi lebih baik. anak yang seperti ini akan cenderung belajar dari kesalahan.
Bagaimana pun kondisi orang berbeda. bahkan anak kembar pun apabila dihadapi dengan masalah yang sama pun terkadang memberikan solusi yang berbeda. disini diriku mempaparkan berdasarkan pengamatan selama ini.
Kondisi Traumatik yang terjadi.
1. pemarah dan suka menangis secara tiba-tiba.
apa yang selama ini dilihat sang anak seperti pertengkaran orang tua nya sebelum bercerai, menjadikan sang anak pemarah? kenapa, karena misal, dia berada dipihak ibu yang tersakiti. secara langsung sebenarnya si anak ingin membela sang ibu, tetapi tidak bisa dan menjadikan emosi meledak. lalu, mengapa suka menangis tiba-tiba? memori tentang hal yang sudah terjadi di masa lalu suka secara tiba-tiba lewat begitu saja menjadikan sang anak trauma terhadap memori yang telah terjadi.
2. tidak berani nonton film atau sinetron yang didalamnya terdapat masalah rumah tangga/perceraian.
Balik lagi ke memori, dengan film/sinetron yang terdapat unsur tersebut, menjadikan visual tergambar kembali. walaupun adegan tidak menentu sama dengan yang ditonton, tetapi membuat throwback ke kejadian yang pernah dialami.
3. ceria saat bersama teman, tetapi pendiam saat dirumah.
walaupun kondisi ini sangat umum untuk para remaja. tetapi sebenarnya agak sedikit berbeda. bahkan terkadang rumah pun terasa canggung dan penuh rasa takut dikarenakan memori. solusinya, hmm, sebenarnya hal ini agak sedikit sensitive. secara langsung memang hal ini ditutupi, tetapi sang remaja setidaknya harus punya teman curhat yang bahkan curhat sampai menangis, untuk mengeluarkan emosi yang di pendamnya.
Sebenarnya lebih banyak lagi yang bisa dikaji lebih dalam terkait kondisi ini. kurang lebih poin utama yang diatas tadi ya. Btw, aku open saran dan kritik, silahkan tinggalkan komentar ya!
untuk mengenalku lebih jauh, bisa ke laman instagram ku @rizkahrynto
sampai jumpa membaca di tulisan lainnya ya, bye! じゃ、またね!
asikk semangat terus cik, keren!!
BalasHapusthank you shin!!
HapusNice
BalasHapusthank u ya bibb!
Hapus